Senin, 08 Januari 2018
Abdullah, surga tempatmu nak
Hampir satu tahun pernikahanku, pada Bulan oktober aku coba untuk melakukan tespack. Alhamdulillah positif. Semenjak saat itu aku minta untuk mengurangi jam kerjaku di pondok, tapi yang namanya dulu pernah jadi aktivis yang g bisa diem, ya pada akhirnya ketika merasa diri ini mampu akan melakukan pekerjaannya.
Bulan November aku mulai memeriksakan kandunganku ke dokter Spog saat itu usianya 7w2d dg panjang 10,6 mm sangat kecil sekali saat itu aku mulai belajar tentang kehamilan walaupun sebelumnya juga sudah belajar tapi hanya sekilas. Bulan berikutnya aku ke dokter Spog lagi untuk memastikan janin yang ada dalam kandunganku berkembang dengan baik, 6 Desember 2017 janin dinyatakan sehat dan berkembang dengan baik, Alhamdulillah rasanya senang bisa melihatmu walaupun hanya melalui foto USG. Aku melakukan aktivitas seperti biasanya sebagai seorang pendidik di sebuah pondok, untuk melepaskan penat terkadang sesekali jalan-jalan bersama suami melihat tol yg masih setangah jadi. Sesekali aku istirahat ketika capek, namun aktivitas lagi ketika sudah merasa sehat, terus aku lakukan seperti itu. Pada akhirnya pertengahan bulan desember aku mengalami flek dan hal yang paling fatal (semoga ini tidak terulang lagi,, hiks) aku tidak segera priksa, pada akhirnya aku baru priksa tgl 27 desember 2017 yang sebelumnya sdh mengalami flek beberapa kali tapi aku cuek (masya Allah, maafkan ummimu ini ya nak ðŸ˜). Saat itu aku benar-benar dapat peringatan dari dokterku, hampir 30menit aku dikasih nasehat bla bla bla.
Aku harus bedrest total, akan tetapi flek tetap tidak berhenti. Akhirnya tgl 30 aku dilarikan ke RS tempat kerja dokter Spog yg tau riwayat kehamilanku, dokter menyatakan aku harus ngamar satu hari untuk di observasi, selama di observasi beberapa kali perawat nge-check perkembangan detak jantung dedenya (seneng banget rasanya bisa mendengarnya). Tgl 31 desember 2017 janinku dinyatakan baik, namun aku tetep harus bedrest total. Ketika bedrest total keadaanku semakin memburuk, flek tetap keluar dan sakit perut semakin kencang, murotal menemani rasa sakit yang masya Allah luar biasa.
Tgl 3 sekitar jam 1 malam aku mengalami pendarahan yg luar biasa dan ternyata ketubannya juga sudah pecah. Masya Allah semakin sakit, aku berusaha menenangkan diri ketika perjalanan menuju RS. memasuki ruang tindakan darah masih bercucuran, RS masih sepi dan alhamdulillah ada perawat yg langsung memberi obat agar perutnya g nyeri dan tanganku di infus (baru pertama kali ini kena jarum infus >.<) diriku mulai tenang. Sekitar jam set 3 suami menghubungi kedua ortu (ortuku dan ortumu).
Sekitar jam 10 aku memasuki ruang poli untuk di USG melihat kondisi dedenya, saat itu dokter menyatakan ketubannya sudah habis dan banyinya sdh meninggal di dalam. Innalillahi hatiku, perasaanku seketika hancur tak tau arah... Aku kembali ke ruang tindakan dan segera dikasih obat perangsang agar bisa dilahirkan normal. Sesaat setelah aku berbaring di ruang tindakan, ortuku datang, air mata langsung membanjiri wajahku, aku tak bisa menahan kesedihan ini.
Ketika menunggu obat perangsang dimasukkan ke dalam tubuhku (obat yg dimasukkan sebanyak 4 kali baru bisa kerasa kontraksi, 1 kali obatnya dimasukkan selama 6 jam harus menunggu) saat itu aku hanya bisa dzikir dan berusaha mengikhlaskan keadaan ini. Ditengah hiruk pikuk perasaanku, ada cerita-cerita yang membuatku harus bangkit dan harus banyak² bersyukur, ketika pagi hari ada wali santri yg menjenguk dan menceritakan kisahnya yg pernah keguguran 4 kali, ada temannya suami yg istrinya pernah keguguran di usia kehamilan yg sangat muda, dan ada salah satu pasien didekatku yg sudah 10tahun lebih pernikahannya belum dikaruniai anak karna ketika kehamilan pertama janin tidak berkembang dan di kehamilan kedua sdh flek di usia yg sangat muda akhirnya beliau priksa kandungannya ke RS dan di check di ruang tindakan. Masya Allah banyak banget pelajaran saat hamil hingga aku harus dirawat di RS.
Kembali ke proses melahirkan dedenya yg berusia 4 bln, ketika raga sudah sempurna dan ruh sdh ditiupkan, saat itu juga dede harus meninggalkan kehidupan dunia ini. Aku menunggu ber jam-jam agar bisa kontraksi, pada akhirnya obat yg ke 4 sdh dimasukkan rasanya perutku sdh mulai kontraksi hebat, sakitnya masya Allah, sekitar jam 6 pagi tgl 4 Januari 2018 aku minta suami untuk menyalakan murotalnya dan aku terus berdzikir, menguatkan diri dan mengikhlaskannya, singkatnya sekitar jam 8 dedenya sdh bisa keluar dan sekitar jam 9 aku di USG lagi untuk melihat kondisi rahimku, "alhamdulillah rahimnya sdh bersih jdi g perlu dikiret". Masya Allah aku harus merasakan melahirkan di awal waktu. Banyak hal yg aku dapatkan dengan kejadian yg luar biasa ini. Sungguh skenario Allah luar biasa. Abdullah, surga tempatmu nak ðŸ˜❤
Semoga kisah ini bisa menjadikan kita lebih bersyukur dan bersabar dengan keadaan. Amin
Langganan:
Postingan (Atom)