Berawal dari keinginan menikah muda yg sejak dibangku sekolah, aku menginginkan menikah di usia 23 tahun. Memang dengan latar belakang keluarga yg insya Allah baik, tidak membolehkan yg namanya pacaran, bolehnya pacaran setelah menikah :3
Bagiku ini hal terberat karna lingkungan sekolahku termasuk lingkungan yg bebas, segala bentuk kisah cinta remaja mewarnai dunia sekolah.
Singkat cerita, ketika kuliah mendekati semester akhir kuberanikan diri mengajukan proposal pernikahan ke murabbi di Malang, aku menunggu sebuah kepastian hingga akhirnya kuputuskan harus mutasi dari Malang. Saat itu pernah terbersit untuk tidak melanjutkan penantian kabar yg di Malang, aku hanya berdo'a dan berdo'a.
Hingga akhirnya saat aku berada di zona nyaman ada sebuah proposal yg terkirim di WAku ketika malam hari. Aku baca, aku pelajari dan sampai aku beberapa kali galau karna proposal yg tiba-tiba datang. Istikharah adalah senjataku untuk menentukan sebuah kepastian, setelah itu aku meng-iya-kan untuk melanjutkan sebuah proses.
Tepat dimana kita memperingati hari sumpah pemuda 28 Oktober 2016, kau datang bersama teman dan murabbimu untuk menyatakan 'sumpah' dihadapan keluargaku dengan niat menikah denganku. Aku hanya diam terpaku tak tau harus berkata apa ketika kau dihadapanku dengan sebelumnya aku mengenalmu hanya lewat sebuah proposal.
Sebuah jawaban belum aku jawab saat itu juga, aku masih ingin beristikharah. Jawaban hanya kusampaikan lewat ummi setelah 3hari sebuah pertemuan. 13 November 2016 kau datang untuk kedua kalinya bersama keluarga, yg kata orang ini sebuah pertemuan lamaran. Aku tetap berdoa dan berharap agar kegalauanku tidak berujung frustasi, shalat istikharah tetap aku lakukan agar aku mendapat ketenangan.
27 November 2016 pertemuan ketiga aku berkunjung kerumahmu untuk meminta sebuah kepastian, penentuan tanggal dan segala macamnya kita selesaikan bersama. Hingga saatnya tiba di Bulan Desember 2016 tepat tgl 25 jam 09.00 kau mengatakan sumpah itu didepan penghulu. Alhamdulillah segala prasangka itu hilang semua setelah aqad nikah karna memang ini hanya perkenalan singkat dan beberapa kali membuatku bingung ketika ditanya teman² "dirimu itu seperti apa", dan terkadang aku hanya menjawab kita dikenalkan lewat sebuah lembaga.
Prasangkaku yg hingga saat ini membuatku khilaf adalah ketika sebelum menikah aku mengenalmu bukan sebagai kader kammi, padahal aku ingin menikah dengan kader kammi hanya karna aku ingin kita sama² faham dan mengerti keadaan satu sama lain. Ini hal yg aku ikhlaskan, beberapa kali aku mengatakan kepada teman²ku bahwa dirimu bukan orang yg mereka kenal.
Pada akhirnya setelah pernikahan ketika kita saling cerita, kau mengatakan bahwa dulu pernah aktif di KAMMI (akhirnya aku bisa bernafas lega). Ternyata jodohku g jauh² dari yg namanya KAMMI 🙈
KAMMI Malang
❤
KAMMI Madiun
Rabu, 28 Desember 2016
Kamis, 06 Oktober 2016
Bersyukurlah, pilihan Allah itu yang terbaik
Sampai saat ini statusku masih sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Malang, di Malang aku benar-benar di tempa oleh kehidupan yg kadang rumit layaknya ibu kota namun tak serumit jekardah.
Beberapa kali aku harus berkorban waktu lebih ketika di Malang, walaupun rumah asliku hanya berada di Blitar yg hanya di tempuh kurang lebih 2 jam dan masih memungkinkan setiap sepekan sekali pulang ke rumah untuk bertegur sapa bersama keluarga, namun aku memilih sebuah pilihan layaknya anak Rantau yg jarang pulang.
Tak terasa kuhabiskan waktu selama 4 tahun di Malang dg berbagai resah dan gelisahnya sebagai mahasiswa dan aktivis pergerakan. Tak jarang berangkat pagi dan pulang malam semacam bang toyib :3
Namun kini aktivitasku berubah drastis, walaupun masih berstatus mahasiswa yg sok sibuk ngerjakan tugas akhir. Kali ini aku berkesempatan berkumpul dg para penghafal Al-qur'an di salah satu lembaga di kota Blitar.
Beberapa kali sempat bolak-balik Blitar-Malang untuk menyelesaikan tugas yg blm rampung, namun sesekali aku 'nyolong' waktu untuk berkumpul bersama para aktivis pergerakan agar aku bisa meng-update informasi yg selama ini kurang karna terbatasnya waktu dan jarak berkumpul bersama mereka lagi.
Mungkin banyak menganggap aku berada di zona nyaman yg tinggal menikmati fasilitas apapun di Blitar, namun merasa kehilangan keabadian menjadi aktivis pergerakan. Aku sering jenuh dg kondisi yg beberapa kali menghilang, seperti diskusi, aksi dan kesibukan yg sampai membuatku lelah 😥
Ahh, mungkin itu yg terbaik ketika aku harus mengorbankan waktu untuk daerahku sendir, yg orang² bilang bahwa kita harus 'kembali ke desa'. Kembali ke masyarakat.
Zona nyaman yg terkadang membuatku lupa untuk bersyukur (astaghfirullah), dibandingkan dulu ketika di Malang untuk makan aja hanya 2kali sehari, namun ketika di Blitar bisa sampai 4kali makan. Hehe
Dan kenikmatan² lain yg blm aku dapatkan di Malang ternyata Allah tunjukan disini dg jalan yg berbeda.
Orang 'makmur' blm tentu bahagia, tapi orang bersyukur pasti bahagia^^
Bismillah
Semoga semakin dewasa dan semakin bersyukur menerima keadaan 😊
Beberapa kali aku harus berkorban waktu lebih ketika di Malang, walaupun rumah asliku hanya berada di Blitar yg hanya di tempuh kurang lebih 2 jam dan masih memungkinkan setiap sepekan sekali pulang ke rumah untuk bertegur sapa bersama keluarga, namun aku memilih sebuah pilihan layaknya anak Rantau yg jarang pulang.
Tak terasa kuhabiskan waktu selama 4 tahun di Malang dg berbagai resah dan gelisahnya sebagai mahasiswa dan aktivis pergerakan. Tak jarang berangkat pagi dan pulang malam semacam bang toyib :3
Namun kini aktivitasku berubah drastis, walaupun masih berstatus mahasiswa yg sok sibuk ngerjakan tugas akhir. Kali ini aku berkesempatan berkumpul dg para penghafal Al-qur'an di salah satu lembaga di kota Blitar.
Beberapa kali sempat bolak-balik Blitar-Malang untuk menyelesaikan tugas yg blm rampung, namun sesekali aku 'nyolong' waktu untuk berkumpul bersama para aktivis pergerakan agar aku bisa meng-update informasi yg selama ini kurang karna terbatasnya waktu dan jarak berkumpul bersama mereka lagi.
Mungkin banyak menganggap aku berada di zona nyaman yg tinggal menikmati fasilitas apapun di Blitar, namun merasa kehilangan keabadian menjadi aktivis pergerakan. Aku sering jenuh dg kondisi yg beberapa kali menghilang, seperti diskusi, aksi dan kesibukan yg sampai membuatku lelah 😥
Ahh, mungkin itu yg terbaik ketika aku harus mengorbankan waktu untuk daerahku sendir, yg orang² bilang bahwa kita harus 'kembali ke desa'. Kembali ke masyarakat.
Zona nyaman yg terkadang membuatku lupa untuk bersyukur (astaghfirullah), dibandingkan dulu ketika di Malang untuk makan aja hanya 2kali sehari, namun ketika di Blitar bisa sampai 4kali makan. Hehe
Dan kenikmatan² lain yg blm aku dapatkan di Malang ternyata Allah tunjukan disini dg jalan yg berbeda.
Orang 'makmur' blm tentu bahagia, tapi orang bersyukur pasti bahagia^^
Bismillah
Semoga semakin dewasa dan semakin bersyukur menerima keadaan 😊
Rabu, 05 Oktober 2016
Menikah, nasab atau keinginan
"Menikah memiliki manfaat yg banyak bagi kesehatan, sedangkan membujang mengakibatkan bahaya bagi kesehatan fisik dan mental. Hasil penelitian Dr. KAMAL Al-Fawwal, direktur Rumah Sakit Jiwa di Al-Iskandariah (Alexandria) Mesir, menegaskan bahwa pernikahan memberikan perlindungan dari berbagai bentuk penyakit fisik dan mental, serta terhindar dari schizophrenia (gila)."
Ahh, aku tidak mau berprasangka kepada setiap orang yg telah melakukan pernikahan, namun aku terus bertanya dalam benak kecilku tentang sebuah pernikahan. Karna terkadang menjadi 'motivasi' untuk bersegera dan terkadang tiba-tiba menjadi 'momok' yg menakutkan layaknya orang yg phobia nikah. Hal ini karna efek lingkungan heterogen yg mempengaruhi pola pikirku, namun aku berusaha menampik asumsi² yg hanya sejenak mangkir dipikirkanku.
Mencoba belajar dari kisah orang lain atau hanya sekedar membaca tentang pernikahan itu perlu.
Kasus perceraian yg kabarnya tiap tahun semakin meningkat dan 'kegagalan' dalam pengasuhan anak inilah yg menjadi sebuah 'ketakutan' dalam benakku.
Pada dasarnya latar belakang sebuah keluarga juga menjadi faktor bagaimana sebuah pernikahan itu dibentuk. SEKUFU itu penting agar bisa saling memahami dan membangun masa depan dg mudah. Faktor ini lebih dipengaruhi karna nasab (keturunan). Suka merinding klo ngomongin nasab, karna g tau ntar keturunanku selanjutnya akan jadi kayak apa mengalami fase digital yg luar biasa (innalillahi) ðŸ˜
Hal ini berbeda ketika sebuah pernikahan hanya hasrat keinginan (nafsu) semata, karna pernikahan tak cukup hanya bermodal CINTA (emang Cinta modalnya berapa ._. )
Aku menukil bait dalam sebuah buku tentang pernikahan, "Cinta dapat merusak pikiran, menimbulkan rasa was-was, dan juga gelap akal. Padahal, akal merupakan sesuatu yg paling mulia bagi manusia yg membedakannya dg binatang. Ketika akal manusia hilang, bisa jadi keadaan binatang lebih baik darinya. Bukankah Cinta yg telah melenyapkan akal majnun laila?"
Aku tak mau bertele-tele membahas sebuah pernikahan, karna tau apa diri ini yg masih single #tsaahh nanti malah dikira sok tau. Intinya gini, menikah itu butuh ikhtiar, klo hanya mengandalkan nasab apalagi hanya sekedar naluri semata tanpa faham manfaat dan tujuan sebuah pernikahan maka untuk membangunnya butuh banyak yg akan dikobarkan.
Wallahua'lam
*menulis dalam kesendirian
Rabu, 10 Februari 2016
Maka ni'mat Tuhanmu manakah yang kau dustakan
Berawal dari keraguan ketika aku menginjakkan kaki di Negri gajah dan harus sejenak meninggalkan apa apa yang ada di tanah air. Namun, atas izin Allah akhirnya dengan berbagai cara aku bisa negara yang kaya akan hasil lautnya. Banyak hal perbedaan dengan negara Indonesia terutama budaya, walaupun Indonesia sendiri memiliki budaya yang sangat banyak. Mereka yang masih minoritas muslim membuat saya benar-benar belajar bagaimana menghargai orang lain yang berbeda agamanya.
Tak sampai disitu, ketika aku harus menyesuaikan jadwal sholat yang berbeda dengan waktu indonesia bagian barat ternyata juga tidak mudah. Terutama ketika berada saat tidak ada masjid ataupun suara adzan.
Entah kenapa ketika aku berada di negri gajah putih lebih merasakan kenikmatan alam yang indah daripada ketika aku berada di Indonesia yang kaya akan keindahan alamnya, mungkin aku belum mengenal alam Indonesia secara mendalam. Aku bisa menikmati indahnya hujan, bisa menikmati hamparan sawah yg ditanami padi dan menikmati indahnya pelangi ^^
Satu hal yang membuatku kagum ketika berada di negri gajah adalah disetiap titik tempat terutama di sekolah-sekolah terdapat bendera Asean beserta negara-negaranya termasuk Indonesia. Sungguh indah. Aku jadi merasakan Indonesia 'ada' disini. Bersambung
Selasa, 19 Januari 2016
Ungkapanku Jihad di Negri Orang
07 Januari 2016
Memulai Kehidupan Baru di Negri Orang
Bismillah
Mengawali hari berada di negri orang dan dua hari yang lalu sempat
singgah di Bangkok Thailand, namun saat ini saya sudah berada di Madrasah
Santisart yang berada di Pattani yang jauh dari peradaban kota. Jika menempuh
perjalanan darat dengan kereta api bisa mencapai 15jam lebih dari Bangkok ke
provinsi Chana kemudian dari Chana ke Pattani bisa ditempuh selama 2jam dengan
menggunakan kendaraan mobil.
3 hari sudah berlalu di Negri Thailand ini dan baru kemarin sore
sampai pada tempat singgah untuk melakukan pengabdian atau PKL (Praktek Kerja
Lapangan) di Negri Gajah ini yang insya Allah akan dilaksanakan sampai tanggal
29 Januari 2016. Sebelum berada di tempat singgah untuk mengabdi ketika di
Bangkok pada tanggal 4-5 Januari 2016 dan menginap di guest house muslim, saat
itu saya merasakan bahwa ketika berada di negri orang betapa pentingnya
mengetahui dan mengenal orang-orang muslim yang kita temui agar kita mudah
menemukan makanan yang halal dan bisa shalat dengan tenang.
Saat berada di Bangkok masih ada beberapa kedai yang penjualnya
orang muslim, jadi ketika mencari makanan yang halal mudah. Hal ini penting
kita ketahui karena memang hidup di negri orang yang masih muslim minoritas,
agar kita mudah ketika berinteraksi dengan orang lain.
Sampainya di tempat PKL tepatnya di Madrasah Santisart yang berada
di Provinsi Pattani, rombongan dari UIN Malang disambut oleh santri yang ada
disana dengan shalawat dan dijamu dengan makanan dan minuman. Alhamdulillah
disambut dengan baik oleh orang-orang yang ada Madrasah Santisart tersebut. Di
tempat ini ada siswa kelas 1 SMP yang tinggal di asrama layaknya anak pondok
jika di Indonesia.
Hari pertama bertemu dengan siswa-siswa disini yang mulai dari TK
(Taman Kanak-kanak), SD (Sekolah dasar) hingga SMP (Sekolah Menengah Pertama)
yang hanya kelas . Pagi hari pukul 08.20 sebagian siswa ada yang baris-berbaris
dan ada juga yang melaksanankan sholat dhuha. Kemudian masuk ke kelasnya
masing-masing diawali dengan mengaji bersama ustadhah masing-masing kelas, dan
dilanjutkan belajar mengajar sesuai jadwal yang telah ada.
Saya mendapat bagian untuk mengajar mata pelajaran bahasa Arab
kelas 4/1,4/2,5,6 SD dan 1 SMP. Hari pertama ini diawali dengan agenda ta’aruf
di masing-masing kelas dengan didampingi oleh salah satu ustadhah, karena
mayoritas siswa masih belum bisa bahasa melayu ataupun bahasa Arab. Ketika
mulai jam mata pelajaran di kelas 6, saya juga didampingi oleh salah satu ustad
yang mengajar jam tersebut. Mengajarnya mulai dari jam 11.45 sampai 12.30 dan
saya isi dengan agenda ta’aruf bersama siswa sekitar 39 anak.
08 Januari 2016
Mengenal Berbagai Bahasa itu Menyenangkan
Pagi ini bertepatan dengan hari jum’at, semua siswa mengenakan
pakaian putih sedangkan siswinya berpakaian hitam. Berbeda dengan hari kemarin
yang semuanya mengenakan pakaian biru. Semuanya berbaris seperti biasanya dan
hari ini ada senam yang dipimpin oleh 2 orang dari mahasiswi UIN Malang.
Dilanjutkan agenda seperti biasanya mengajar ke kelas-kelas yang telah
ditetapkan. Namun, saya saat ini free tidak ada jadwal mengajar jadi membantu
teman di kelas untuk mengajar.
Ketika jam 10.15 sampai jam 11.00 mengajar di kelas 2, saat
mengajar di kelas 2 sangat berbeda ketika kemarin ta’aruf di kelas 4 SD sampai
1 SMP yang bisa diatur ketika pelajaran dan masih ada beberapa siswa yang paham
bahasa melayu atau bahasa inggris jadi sedikit mudah untuk mengelolanya. Akan
tetapi ketika mengajar di kelas 2 yang kondisi siswanya sangat rame dan susah
diatur terutama belum paham dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa melayu jadi
harus benar-benar sabar ketika menghadapi siswa kelas 2.
Setelah itu saya dan teman saya berkunjung ke kelas 5 dan belajar
bahasa Thailand bersama mereka yang sedang kosong jam pelajarannya, ada
beberapa siswa yang bermain lompat tali dan ada beberapa yang menemani kami
untuk belajar bahasa Thailand yang tempatnya di depan kelas. Alhamdulillah
mereka sangat antusias ketika kami meminta untuk belajar bahasa Thailand,
bahkan kami diajari lagu dengan menggunakan bahasa Thailand.
Setelah itu pada jam 14.05 sampai jam 14.50 saya bersama
teman-teman mengajar di kelas 1, keadaannya tidak jauh berbeda dengan kelas 2
yang siswanya ramai dan terkadang susah diatur bahkan ada siswa yang keluar
kelas dan bermain-main sendiri. Namun, mereka juga antusias untuk belajar
walaupun keadaan kelasnya sangat ricuh.
Sebelum para siswa pulang ke rumahnya masing-masing, mereka
berkumpul di ruang terbuka sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Saya
mendapat bagian di kelompok green yang bertempat di lapangan sepak bola.
Beberapa siswa mendapat bagian untuk bermain sepak bola dan dibagi menjadi 2
kloter permainan. Kemudian para siswi bernyanyi bersama-sama dengan menggunakan
bahasa Thailand. Setelah itu mereka pulang, ada yang di jemput oleh orang
tuanya dan ada yang menggunakan mobil antar jemput.
Kami melakukan aktivitas seperti biasanya, namun sekolahan terlihat
sepi karena para siswa kelas 1 SMP yang tinggal di asrama pulang ke rumahnya
masing-masing. Akhirnya kami ditemani oleh orang yang memang tinggal di
madrasah.
09 Januari 2016
Mengenal Makanan yang Ada di Negri Gajah
Ketika hari sabtu di Madrasah Santisart ini tidak ada kegiatan
belajar-mengajar. Untuk kelas 1 SMP tetap masuk akan tetapi mereka hari ini
pulang ke rumahnya masing-masing, ini program dari sekolah bagi yang kelas 1
SMP wajib tinggal di asrama dan setiap satu bulan sekali mereka libur pada
kegiatan asrama dan sekolahnya. Jadi hari ini saya dan teman-teman tidak ada
jadwal mengajar.
Kita isi dengan
kegiatan bersih-bersih dan mengerjakan beberapa tugas laporan. Saat ini kondisi
jalanan di sekolah sedang di renovasi, jadi terlihat rame dan beberapa kali
berinteraksi dengan orang-orang yang ada disini. Terkadang juga belajar
komunikasi dengan pak cik atau yang kita kenal dengan karyawan yang
bekerja di sekolah dengan menggunakan bahasa melayu kampung. Alhamdulillah
beliau yang sering menanyakan kabar dan memberi makanan ringan atau minuman
kepada kami.
Selepas sholat
ashar kami diajak bermain dengan anak-anak yang tinggal di sekitar sekolah,
saat itu juga kami juga belajar bahasa thailand ataupun bahasa melayu kampung
bersama orang yang ada disini. Kemudian dilanjutkan shalat maghrib berjamaah,
ketika menunggu waktu isya’ kami diajak ngobrol dengan ummi yang sejak
awal mengurusi kami dan beliau juga tinggal di dekat sekolah jadi mudah untuk
bertemu.
Shalat isya
kemudian makan malam bersama di rumah ummi, setiap kali makan bersama ummi saya
selalu menanyakan nama lauk yang dihidangkan. Karena setiap kali makan selalu
ada makanan atau lauk yang saya tidak ketahui. Saya juga berusaha adaptasi
dengan makanan disini yang sangat berbeda di Indonesia.
Makanan disini
lebih banyak makan dengan daging dan ikan laut, berbeda dengan di Indonesia
yang masih banyak mengonsumsi makanan nabati daripada hewani. Rasa makanan
disini juga berbeda, mayoritas sayur yang dihidangkan rasanya sangat asin dan
pedas. Hal ini sangat berbeda dengan yang saya makan ketika di Indonesia.
Udara disini tak
beda jauh dengan Indonesia yang saat ini musim panas, namun disini lebih panas
dan lebih kering. Akan tetapi disini di setiap ruangan ada kipas angin, jadi
kami tidak merasakan panas yang terlalu menyengat.
10 Januari 2016
Menjalin Ukhuwah Antar Negara itu Indah
Kegiatan belajar mengajar hari ahad ini tidak ada. Namun, kita
bermain di resort bersama anak-anak kecil yaitu putra-putri yang merupakan
pengurus di Madrasah Santisart. Setelah sarapan dengan nasi keburi yang hampir
setiap pagi dihidangkan, kemudian saya bersama teman-teman bermain dan belajar
mengasuh anak-anak tersebut. Di sela-sela kami bermain ada mahasiswi UIN Malang
asli Thailand yang berkunjung ke tempat kami dan ngobrol bersama kami.
Setelah itu kami bersih diri, shalat
dhuhur dan kami diajak makan siang keluar yaitu di warung makan. Kami
dikenalkan beberapa makanan Thailand seperti jika di Indonesia soto babat namun
memiliki rasa yang sangat asam dan makanan papaya pok pok yang memiliki ciri
khas asam pedas. Hidangan minuman disini selalu menggunakan campuran es batu
walaupun minum air putih.
Sebelum pulang ke madrasah, kami
mampir dulu ke toko besar yang di dalamnya menjual berbagai alat-alat rumah
tangga, perlengkapan sekolah atau berbagai kebutuhan yang lain, toko tersebut
seperti sardo jika di Malang. Barang disana harganya rata-rata 20 bath atau
setara dengan Rp. 8.000,00 berupa aksesoris atau perlengkapan sekolah.
Sesampai ditempat kami bersih-bersih
mushola untuk persiapan sholat maghrib dan bersih diri. Dilanjutkan dengan
shalat magrib sampai isya di mushola tersebut kemudian makan malam bersama ummi
yang tinggal di madrasah tersebut. Kami juga disambut baik dengan siswi yang
tinggal di asrama ketika mereka sudah balik setelah pulang dari rumah
masing-masing. Kami berkunjung ke kamar mereka dan mereka memberikan kita
makanan ringan khas Thailand yaitu sosis, coklat dan beberapa jenis kue
lainnya. Kami ngobrol agar lebih kenal dengan mereka, beberapa kali kami
diajari bahasa Thailand.
Setelah itu kami kembali ke kamar
untuk menyelesaikan tugas kemudian tidur.
11 Januari 2016
Menikmati Keindahan Alam di Negri Gajah
Berjumpa lagi dengan hari senin dan
kami melakukan aktivitas seperti biasanya yaitu mengajar, saat ini saya
mendapat bagian di kelas 5 pada jam 11.00 sampai jam 11.45. Sebelum mengajar di
kelas tersebut saya mengikuti kegiatan yang ada di madrasah ini, mulai dari
baris- berbaris setiap pagi kemudian melihat kondisi kelas ketika mereka masuk
kelas masing-masing. Ketika menunggu jam mengajar, saya juga mengunjungi ruang
kelas yang ada teman saya untuk membantu mengondisikan siswa.
Pada jam 11.00 saya mengajar di
kelas 5 yang diisi dengan bernyanyi serta ada game. Beberapa kali mereka belum
paham apa yang saya maksud ketika berbicara, namun saat itu ada ust yang
mengajar di kelas tersebut datang dan memberi penjelasan kepada siswa-siswi
tersebut. Hal ini juga memudahkan saya ketika mengajar.
Beberapa siswi ada yang ingin
bernyanyi dan salah satu siswi memberikan buku kepada saya yang isinya kumpulan
lagu yang diajari oleh kakak tahun kemarin. Kemudian kita bernyanyi bersama
hingga waktu jam pelajarannya habis. Setelah itu tidak ada lagi jadwal untuk
mengajar, namun saya berkunjung ke kelas untuk membantu teman saya.
Ketika jam istirahat makan siang
bersama guru di tempat roudhoh atau taman kanak-kanak yang mereka jadwalnya
tidur siang jadi kondisinya yang sepi dan memungkinkan kita untuk ngobrol
bersama guru-guru pada jam makan siang. Dilanjutkan agenda mengajar seperti
jadwal yang ada dan agenda sore seperti biasanya yang agendanya dilakukan di
luar kelas atau outdoor.
Sudah menunjukkan pukul 16.00
waktunya mereka pulang ke rumahnya masing, ada beberapa siswa yang di jemput
oleh keluarganya dan ada yang menggunakan kendaraan mobil antar jemput milik
sekolah. Kami diberi kesempatan untuk mengikuti perjalanan pulang siswa-siswi.
Perjalanan yang kami tempuh bisa sampai satu setengah jam lebih dengan
didampingi salah satu ustadhah mengelilingi salah satu keindahan di Thailand
ini.
Di daerah Pattani ini keadaan lalu
lintas masih terlihat lengang, dan masih ada beberapa lahan kosong. Ada beberapa
lahan yang di tanami padi dan ada hamparan luas yang ditanami pohon getah.
Namun, berbeda dengan Indonesia ketika memiliki lahan luas seperti hutan tidak
memiliki pencahayaan lampu, di daerah Pattani sudah ada pencahayaan lampu di
setiap sudut hamparan tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)
