Kamis, 29 Mei 2014

Antara Ikhwanul Muslimin (IM), Mesir dan Al-Azhar


Ikhwanul Muslimin atau panggilan kerennya Al-Ikhwan adalah sebuah jamaah yang ada di Mesir. IM mulai didirikan pada bulan Maret 1928 di kota Islamiyah Mesir oleh Imam Hasan Al-Banna. Kemudian ketika Imam Hasan Al-Banna dipindah tugaskan sebagai guru di sekolah Abbas pertama di Kairo. Namun, dengan perpindahan tugas tersebut dimanfaatkan oleh Hasan Al-Banna untuk meluaskan aktivitas da’wahnya ke ibu kota Mesir, tempat berbagai keputusan politik dilakukan dan jumlah penduduknya jauh lebih banyak serta heterogin dibandingkan islamiah.
            Kota Islamiah juga menjadi sejarah bagi IM, karena kota Islamiah telah memberikan inspirasi yang mengagumkan sebagai tempat dimulainya pertumbuhan gerakan ikhwan. Dari kota yang merupakan kamp Inggris mulai membangkitkan diri setiap warga yang tekad dan kuat untuk mengkaji ulang keberadaan penjajah Inggris yang telah menimbulkan berbagai bencana, kesengsaraan, serta hilangnya harga diri dan martabat bangsa Mesir umumnya dan Islam pada khususnya. Penjajahan yang dilakukan Inggris merupakan penghalang utama bagi kebangkitan dan kemajuan Mesir serta rintangan besar upaya menciptakan persatuan Arab dan umat islam selama 60 Tahun. 
            Dengan perjuangan yang dilakukan IM dan semakin banyaknya pengikut sampai mampu ke ranah parlemen menjadikan geram kaum zionis. Mulai dari pemerintahan an-Naqrasyi yang berusaha membubarkan IM sampai saat ini tentang kudeta Mursi yang tidak kunjung usai.
            Mesir adalah tempat bersejarah bagi Ikhwan, karena berawal dari Mesir Ikhwan mampu menguncang dunia bahkan sampai di negara ini. Indonesia. Masih ingatkah dengan kemerdekaan bangsa ini, negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Mesir (secara de facto). Ikhwan masuk ke Indonesia melalui jamaah haji dan kaum pendatang Arab sekitar tahun 1930. Pada zaman kemerdekaan, Agus Salim pergi ke Mesir dan mencari dukungan kemerdekaan.
            Keindahan Mesir tidak hanya Piramida dan Sungai Nil yang sangat familiar dikalangan kita. Namun, Mesir masih punya Al-Azhar yang megah hingga saat ini. Selayang pandang sejarah Al-Azhar adalah ketika Shalahuddin al-Ayubi mengembalikan Mesir menjadi Sunni, pemikiran syi’ah dan khilafah Syi’iyah mengakar sekitar abad ke-7 H. Sultan an-Nasher Shalahuddin mencoba mendirikan sebuah institusi ilmiah yang diberi nama Al-Azhar. Institusi tersebut mengkaji dan mengajarkan mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta ilmu keislamaan seperti akidah, bahasa Arab, serta berbagai disiplin ilmu lainnya. Sejak saat itu hingga sekarang Al-Azhar mulai terkenal sebagai salah satu Institusi pendidikan Islam yang unggul dan hebat di seluruh penjuru dunia Islam, dari ujung barat sampai ujung timur, dan dikunjungi oleh kaum muslim yang ingin menimba ilmu keislaman. Hingga sekarang, sudah tak terhitung alumni yang telah dihasilkan oleh Al-Azhar baik di Mesir dan negara-negara Arab maupun di berbagai negara islam lainnya.
            Ulama-ulama Al-Azhar dalam perjalanannya kemudian baik di Mesir, negara Arab serta Islam lainnya, menguasai berbagai disiplin ilmu, atau menduduki berbagai jabatan terhormat. Dengan demikian kiprah dan pengabdian para ulama Al-Azhar telah melampaui Mesir dan menyeberang ke berbagai negara di dunia Arab dan islam. Sejarah Al-Azhar menjadi saksi yang jujur untuk semua itu. Meski demikian, sebagai sebuah institusi pendidikan islam terbesar, Al-Azhar juga sering dianggap sebagai momok di mata para penjajah dan musuh-musuh islam dan bagi para penguasa yang zalim. Hal ini disebabkan sering munculnya berbagai demonstrasi yang dari Al-Azhar, menentang kebatilan dan kezaliman. Karena dari sana pula dirancang berbagai strategi dan konsep untuk melawan musuh-musuh islam.
            Pandangan ikhwan terhadap Al-Azhar senantiasa posistif sebagai dampak dari pemahamannya yang benar terhadap agama Islam. Ikhwan menyadari sepenuhnya pentingnya peran Al-Azhar baik di Mesir maupun diseluruh dunia Islam dalam melindungi ilmu Islam dan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an. Jamaah ini juga menghargai amal mulia yang dilakukan Al-Azhar di bidang da’wah dan pengajaran. Imam Hasan Al-Banna mengungkapkan hubungan pemikiran IM dengan Al-Azhar dan para ulamanya, beliau mengatakan “Salah satu faktor yang mendorong bangsa Timur untuk menyimpang dari Islam dan memilih untuk mengekor ke Barat antara lain karena mereka beranggapan bahwa kebangkitan Barat berhasil dengan baik setelah mereka mampu meruntuhkan agama dan gereja, membebaskan diri dari kekuasaan Paus, membasmi semua kekuasaan agama di tengah masyarakat serta memisahkan secara total antara masalah agama dengan masalah kenegaraan. Konsep islam terhadap masalah tersebut sangat berbeda dengan konsep agama manapun. Kekuasaan dalam Islam kecil dan terbatas, dan tidak mungkin dapat mengubah situasi serta membalikkan sistem islam. Hal itu menjadikan kaidah-kaidah pokok Islam sepanjang waktu akan dapat menyesuaikan diri dengan zaman, dan selalu mengarah kepada kemajuan, mendukung ilmu pengetahuan serta melindungi para ilmuwan.”
            Memang erat hubungan IM, Mesir dan Al-Azhar. Mereka tidak dapat dipisahkan, karena sangat berperan penting dalam dunia Islam.
Wallahua’lam. Semoga bermanfaat J   
            

Sabtu, 24 Mei 2014

Yuk Belajar Berbagi^^


Tak terasa, tidak lama lagi kita akan berjumpa dengan bulan Ramadhan, bulan yang selalu dirindukan kehadirannya. Pada bulan Ramadhan kita diwajibkan berpuasa dan membayar zakat, banyak pahala yang kita dapatkan ketika bulan Ramadhan. Setiap orang berlomba-lomba mendapatkan keberkahan, salah satunya adalah berbagi bersama saudara.
            Pada bulan Ramadhan kita benar-benar dilatih menjaga diri dengan cara memperbanyak ibadah (habluminallah) dan saling peduli kepada saudara (habluminannas). Banyak kita jumpai masjid-masjid yang menyediakan makanan untuk sahur ataupun buka puasa. Di bulan Ramadhan juga terdapat kewajiban yang harus kita tunaikan, yaitu membayar zakat fitrah. Momen seperti inilah yang mampu melatih kita peduli terhadap sesama.
            Keindahan yang seperti itu terkadang akan sirna setelah bulan Ramadhan berakhir. Kepedulian sosial terabaikan karena mereka terlena akan kehidupan pribadinya. Kita sebagai orang islam mempunyai kewajiban kepada saudara lainnya, jangan membiarkan orang-orang yang miskin dan terlantar.
Saya ingin berbagi ilmu (cuplikannya saja) yang saya dapatkan beberapa waktu yang lalu tentang kewajiban kita kepada masyarakat. Cara yang pertama adalah memberi nafkah kepada karib kerabat. Dalam Al-Qur’an Surat Al Isra’ ayat 26 dijelaskan bahwa “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (17:26) Kewajiban seorang muslim adalah utamakan karib kerabat dahulu misalnya keluarga, saudara terdekat dan tetangga. Cara yang kedua adalah membanyar zakat. Zakat adalah rukun islam yang ketiga, zakat adalah salah satu cara kita berbagi kepada saudara kita dan hal terpenting dari zakat adalah dengan zakat mampu membersihakan dan mensucikan harta. Terdapat dalam surat At-Taubah ayat 103 “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (9:103) Sesungguhnya zakat itu mengambil dari aghniya’ (orang-orang kaya) untuk fuqoro’ (orang-orang miskin): dari umat dan untuk umat. Bukan hanya zakat fitrah saja ya, jika ingin mengetahui lebih dalam tentang zakat bisa tanya kepada orang yang sudah mahir misalnya ustad, dosen atau MR masing-masing J.
Berbagi itu indah, tidak hanya diri sendiri yang merasakan tapi orang lain juga bisa merasakan kenikmatan dari Allah Swt. Jangan lupa untuk selalu bersyukur J

Kamis, 15 Mei 2014

Sensitif Dunia Politik Bagi Kaum Hawa


Masih banyak orang yang beranggapan bahwa wanita tidak pantas untuk berpartisipasi dalam dunia politik bahkan mengenal politik saja masih dinilai asing. Karena memang secara psikologi seorang wanita ketika menjadi pemimpin lebih mengedepankan perasaan daripada ideologinya, dan itu menjadi kelemahan wanita ketika sudah berkecimpung di dunia politik.
            Asumsi dunia barat kepada kaum hawa tentang pastisipasinya dalam ruang publik adalah wanita dianggap lemah, baik secara fisik ataupun mental. Asumsi inilah yang menjadikan munculnya gerakan kesetaraan gender dan feminisme. Bahkan dalam kasus ibadah sholat, kedudukan shaf wanita dalam sholat sejajar dengan pria.
Hal itu sangat bertentangan dengan islam, kita belajar islam secara syumul (keseluruhan) tak terkecuali ilmu politik. Islam tidak melarang wanita menjadi pemimpin. Contoh pada zaman nabi Sualaiman ialah ratu Bilqis yang berhasil memimpin negaranya. Ini sebagai bukti bahwa wanita itu mampu untuk menjadi pemimpin, namun tidak untuk pemimpin keluarga. Pemimpin keluarga tetap menjadi tanggung jawab sorang pria.
Islam telah memposisikan wanita ditempat mulia sesuai dengan kodratnya. Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa wanita memegang peran penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Bahkan ada yang mengatakan “jika akhlak wanitanya rusak maka rusaklah negara”. Seorang wanita juga tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik bagi anak-anaknya, dan mampu menjadi istri yang sholihah bagi suaminya. Karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, jika mampu mempersiapkan wanita yang baik maka itu artinya mempersiapkan negara yang baik juga.
Syeikh Hasan Al-Banna menyatakan bahwa politik adalah memperhatikan urusan umat, luar dan dalam negri, intern dan ekstren, secara individu dan masyarakat secara keseluruhan bukan terbatas pada kepentingan golongan semata.
Jika di Indonesia diberlakukan 30% wanita perwakilan dalam parlemen. Insya Allah keterlibatan wanita dalam dunia politik mampu menjadikan wanita peduli dengan politik dan negara ini akan menjadi lebih baik J
Wallahua’lam. Semoga bermanfaat J

Sabtu, 10 Mei 2014

Senandung Perjalananku dalam Lingkaran Tarbiyah


Tarbiyah secara bahasa adalah pendidikan. Disini saya tidak akan menjelaskan pendidikan seperti pekan lalu, namun saya akan menjelaskan tarbiyah menurut definisi saya pribadi. Tarbiyah yang ini beda, saya mengartikannya sebagai pembinaan. Dalam lingkaran ini kita diajarkan supaya tidak terlena dalam pendidikan dunia formal, namun juga bisa mengimbangi dengan ilmu-ilmu yang lain.
            Kita diajarkan mulai dari belajar membaca Al-Qur’an sampai belajar mengenal masyarakat kita. Banyak yang aku dapatkan dalam lingkaran ini, kenikmatan ukhuwah yang luar biasa dengan segudang aktivitas yang insya Allah akan mendekatkan diri kita kepada Allah.
            Lingkungan seperti ini memang tidak asing bagiku, sejak kecil aku sudah diberi pendidikan yang sampai saat ini akupun masih merasakannya. Walaupun aku sudah tertarbiyah sejak kecil, namun masih banyak yang harus dicari dan dilakukan. Karena memang sifat manusia itu mudah bosan dan kurang puas, namun kita tidak boleh terlena yaitu syukur. Bersyukur masih diberi kenikmatan iman yang tak bisa tergantikan oleh apapun.
Setiap pekan ruhiyahku di-charger supaya selalu ada motivasi untuk melakukan agenda yang bermanfaat. Setiap hari agenda tilawah tak luput dari agenda wajibku, mencari ilmu dengan berbagai cara itulah rutinitasku, mengenal masyarakat itulah kewajibanku.
Suatu waktu aku pernah berfikir, buat apa sih aku berpusing-pusing melakukan semua ini. Bahkan, aku harus mengobarkan harta untuk segudang aktivitas yang aku tidak tau dampak realnya bagi aku seperti apa. Dasar keyakinan yang aku imani adalah selama kita yakin masih punya Allah maka kebaikan yang kita lakukan akan Allah ganti dengan kebaikan yang lain. Masih ingatkah janji Allah yang berbunyi “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya Dia (Allah) akan melihat (balasan)nya”.


Itulah sedikit curhatanku dalam lingkaran tarbiyah yang selalu membimbingku dalam kebaikan J

Kamis, 01 Mei 2014

Kisah Kasih Dunia Pendidikan di Negaraku



2 Mei 2014 adalah peringatan penting bagi warga negara Indonesia yaitu Hari Pendidikan Nasional. Masih ingatkah dengan pahlawan pendidikan kita, slogan yang paling termasyhur di negara ini. Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Yup, Ki Hadjar Dewantoro. Kali ini saya tidak akan menceritakan panjang lebar bagaimana kisahnya beliau, namun saya akan lebih membahas “nasib” pendidikan di negara ini. Jika ingin lebih mengenal sosok Ki Hadjar Dewantoro silahkan googling sendiri atau pergi ke perpustakaan ya J
            Apa arti pendidikan bagi kalian?? Duduk dibangku sekolah, belajar, mengerjakan tugas, atau hanya sekedar mengisi daftar absen J. “Menurut kamus besar bahasa Indonesia pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik”. Dalami baik-baik makna pendidikan, jika tidak ada perubahan sikap pada diri sendiri apalagi bangsa ini, berarti masih stagnan dan belum ada perubahan. Namun, bagaimana kondisi pendidikan di negara kita saat ini?? yuk kita simak penjelasan selanjutnya J
            Masih layakkah disebut dengan pendidikan??
            Problematika pendidikan yang sampai saat ini masih banyak terdengar adalah kasus kriminal antara guru dan siswa dan yang terakhir saya dengar adalah kasus bunuh diri dan kekerasan pada anak di bawah umur yang terdapat di JIS (Jakarta Internasional Shcool). Problem pendidikan yang mahal juga mengakibatkan banyak anak bangsa ini yang tidak mampu untuk sekolah, padalah negara ini adalah negara paling kaya. Masih banyak lagi potret pendidikan di Indonesia yang perlu diperbaiki.
            Apakah ada yang salah dengan kurikulum di negara ini??
            Masih ingatkah dengan UN (Ujian Nasional) yang semakin meresahkan nasib pelajar Indonesia ini. Ujian Nasional yang menjadi “patokan” untuk dapat dikatakan lulus dari sekolah, Ujian Nasional yang baru saja dilaksanakan oleh kawan kita anak-anak SMA sederajat menjadi cerminan bahwa pendidikan kita belum siap untuk bersaing secara sehat dengan negara lain, karena terdapat soal yang masih ada kejanggalan yaitu adanya unsur kampanye politik pada lembar soal Ujian Nasional bahasa Indonesia, ya semacam pencitraan. Masih layakkah pendidikan yang seperti ini??
            Masih banyak problem Ujian Nasional yang belum terselesaikan, mulai dari ada kecurangan dari pihak tertentu dan sampai ada yang bunuh diri gara-gara Ujian Nasional. Masikah layak disebut dengan pendidikan??
            Perubahan kurikulum sejak tahun 1947 hingga tahun 2013 ini merupakan bentuk ikhtiar bangsa Indonesia agar lebih baik. Apakah selama ini dengan perubahan kurikulum mampu memberikan fasilitas pendidikan yang layak bagi bangsa ini. Potret kehidupan pendidikan yang telah saya jabarkan walaupun hanya sepenggal dari kisah pendidikan kita, saya menilai pendidikan kita belum bisa dikatakan berhasil, walaupun perubahan kurikulum sudah dilakukan berkali-kali. Semoga kurikulum 2013 yang kita sebut dengan Tematik Integratif bisa lebih baik. Harapan saya, kita tidak hanya mampu mengedepankan IQ saja namun mampu menyeimbangkan antara IQ, EQ dan SQ.

        Semoga bisa menjadi refleksi. Jika ada kata yang salah mohon maaf, karna aku hanyalah seorang pelajar yang masih tertatih-tatih untuk belajar memahami makna kehidupan ini J