Sampai saat ini statusku masih sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Malang, di Malang aku benar-benar di tempa oleh kehidupan yg kadang rumit layaknya ibu kota namun tak serumit jekardah.
Beberapa kali aku harus berkorban waktu lebih ketika di Malang, walaupun rumah asliku hanya berada di Blitar yg hanya di tempuh kurang lebih 2 jam dan masih memungkinkan setiap sepekan sekali pulang ke rumah untuk bertegur sapa bersama keluarga, namun aku memilih sebuah pilihan layaknya anak Rantau yg jarang pulang.
Tak terasa kuhabiskan waktu selama 4 tahun di Malang dg berbagai resah dan gelisahnya sebagai mahasiswa dan aktivis pergerakan. Tak jarang berangkat pagi dan pulang malam semacam bang toyib :3
Namun kini aktivitasku berubah drastis, walaupun masih berstatus mahasiswa yg sok sibuk ngerjakan tugas akhir. Kali ini aku berkesempatan berkumpul dg para penghafal Al-qur'an di salah satu lembaga di kota Blitar.
Beberapa kali sempat bolak-balik Blitar-Malang untuk menyelesaikan tugas yg blm rampung, namun sesekali aku 'nyolong' waktu untuk berkumpul bersama para aktivis pergerakan agar aku bisa meng-update informasi yg selama ini kurang karna terbatasnya waktu dan jarak berkumpul bersama mereka lagi.
Mungkin banyak menganggap aku berada di zona nyaman yg tinggal menikmati fasilitas apapun di Blitar, namun merasa kehilangan keabadian menjadi aktivis pergerakan. Aku sering jenuh dg kondisi yg beberapa kali menghilang, seperti diskusi, aksi dan kesibukan yg sampai membuatku lelah 😥
Ahh, mungkin itu yg terbaik ketika aku harus mengorbankan waktu untuk daerahku sendir, yg orang² bilang bahwa kita harus 'kembali ke desa'. Kembali ke masyarakat.
Zona nyaman yg terkadang membuatku lupa untuk bersyukur (astaghfirullah), dibandingkan dulu ketika di Malang untuk makan aja hanya 2kali sehari, namun ketika di Blitar bisa sampai 4kali makan. Hehe
Dan kenikmatan² lain yg blm aku dapatkan di Malang ternyata Allah tunjukan disini dg jalan yg berbeda.
Orang 'makmur' blm tentu bahagia, tapi orang bersyukur pasti bahagia^^
Bismillah
Semoga semakin dewasa dan semakin bersyukur menerima keadaan 😊
Kamis, 06 Oktober 2016
Rabu, 05 Oktober 2016
Menikah, nasab atau keinginan
"Menikah memiliki manfaat yg banyak bagi kesehatan, sedangkan membujang mengakibatkan bahaya bagi kesehatan fisik dan mental. Hasil penelitian Dr. KAMAL Al-Fawwal, direktur Rumah Sakit Jiwa di Al-Iskandariah (Alexandria) Mesir, menegaskan bahwa pernikahan memberikan perlindungan dari berbagai bentuk penyakit fisik dan mental, serta terhindar dari schizophrenia (gila)."
Ahh, aku tidak mau berprasangka kepada setiap orang yg telah melakukan pernikahan, namun aku terus bertanya dalam benak kecilku tentang sebuah pernikahan. Karna terkadang menjadi 'motivasi' untuk bersegera dan terkadang tiba-tiba menjadi 'momok' yg menakutkan layaknya orang yg phobia nikah. Hal ini karna efek lingkungan heterogen yg mempengaruhi pola pikirku, namun aku berusaha menampik asumsi² yg hanya sejenak mangkir dipikirkanku.
Mencoba belajar dari kisah orang lain atau hanya sekedar membaca tentang pernikahan itu perlu.
Kasus perceraian yg kabarnya tiap tahun semakin meningkat dan 'kegagalan' dalam pengasuhan anak inilah yg menjadi sebuah 'ketakutan' dalam benakku.
Pada dasarnya latar belakang sebuah keluarga juga menjadi faktor bagaimana sebuah pernikahan itu dibentuk. SEKUFU itu penting agar bisa saling memahami dan membangun masa depan dg mudah. Faktor ini lebih dipengaruhi karna nasab (keturunan). Suka merinding klo ngomongin nasab, karna g tau ntar keturunanku selanjutnya akan jadi kayak apa mengalami fase digital yg luar biasa (innalillahi) ðŸ˜
Hal ini berbeda ketika sebuah pernikahan hanya hasrat keinginan (nafsu) semata, karna pernikahan tak cukup hanya bermodal CINTA (emang Cinta modalnya berapa ._. )
Aku menukil bait dalam sebuah buku tentang pernikahan, "Cinta dapat merusak pikiran, menimbulkan rasa was-was, dan juga gelap akal. Padahal, akal merupakan sesuatu yg paling mulia bagi manusia yg membedakannya dg binatang. Ketika akal manusia hilang, bisa jadi keadaan binatang lebih baik darinya. Bukankah Cinta yg telah melenyapkan akal majnun laila?"
Aku tak mau bertele-tele membahas sebuah pernikahan, karna tau apa diri ini yg masih single #tsaahh nanti malah dikira sok tau. Intinya gini, menikah itu butuh ikhtiar, klo hanya mengandalkan nasab apalagi hanya sekedar naluri semata tanpa faham manfaat dan tujuan sebuah pernikahan maka untuk membangunnya butuh banyak yg akan dikobarkan.
Wallahua'lam
*menulis dalam kesendirian
Langganan:
Postingan (Atom)