Rabu, 05 Oktober 2016
Menikah, nasab atau keinginan
"Menikah memiliki manfaat yg banyak bagi kesehatan, sedangkan membujang mengakibatkan bahaya bagi kesehatan fisik dan mental. Hasil penelitian Dr. KAMAL Al-Fawwal, direktur Rumah Sakit Jiwa di Al-Iskandariah (Alexandria) Mesir, menegaskan bahwa pernikahan memberikan perlindungan dari berbagai bentuk penyakit fisik dan mental, serta terhindar dari schizophrenia (gila)."
Ahh, aku tidak mau berprasangka kepada setiap orang yg telah melakukan pernikahan, namun aku terus bertanya dalam benak kecilku tentang sebuah pernikahan. Karna terkadang menjadi 'motivasi' untuk bersegera dan terkadang tiba-tiba menjadi 'momok' yg menakutkan layaknya orang yg phobia nikah. Hal ini karna efek lingkungan heterogen yg mempengaruhi pola pikirku, namun aku berusaha menampik asumsi² yg hanya sejenak mangkir dipikirkanku.
Mencoba belajar dari kisah orang lain atau hanya sekedar membaca tentang pernikahan itu perlu.
Kasus perceraian yg kabarnya tiap tahun semakin meningkat dan 'kegagalan' dalam pengasuhan anak inilah yg menjadi sebuah 'ketakutan' dalam benakku.
Pada dasarnya latar belakang sebuah keluarga juga menjadi faktor bagaimana sebuah pernikahan itu dibentuk. SEKUFU itu penting agar bisa saling memahami dan membangun masa depan dg mudah. Faktor ini lebih dipengaruhi karna nasab (keturunan). Suka merinding klo ngomongin nasab, karna g tau ntar keturunanku selanjutnya akan jadi kayak apa mengalami fase digital yg luar biasa (innalillahi) ðŸ˜
Hal ini berbeda ketika sebuah pernikahan hanya hasrat keinginan (nafsu) semata, karna pernikahan tak cukup hanya bermodal CINTA (emang Cinta modalnya berapa ._. )
Aku menukil bait dalam sebuah buku tentang pernikahan, "Cinta dapat merusak pikiran, menimbulkan rasa was-was, dan juga gelap akal. Padahal, akal merupakan sesuatu yg paling mulia bagi manusia yg membedakannya dg binatang. Ketika akal manusia hilang, bisa jadi keadaan binatang lebih baik darinya. Bukankah Cinta yg telah melenyapkan akal majnun laila?"
Aku tak mau bertele-tele membahas sebuah pernikahan, karna tau apa diri ini yg masih single #tsaahh nanti malah dikira sok tau. Intinya gini, menikah itu butuh ikhtiar, klo hanya mengandalkan nasab apalagi hanya sekedar naluri semata tanpa faham manfaat dan tujuan sebuah pernikahan maka untuk membangunnya butuh banyak yg akan dikobarkan.
Wallahua'lam
*menulis dalam kesendirian
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar