Sudah dua hari aku melihat kak
Sabrina duduk di serambi masjid pada tengah malam. Dia hanya diam termenung sambil
memandangi langit malam yang penuh
bintang dan disertai hawa dingin.
“Assalamualaikum,
kok di luar Kak? Nanti masuk angin lho ”
aku menghampirinya dan duduk didekatnya.
“Waalaikumsalam,
ya dek mbk lagi menikmati indahnya malam hari” jawab kak Sabrina sambil
tersenyum.
Kami seperti saudara walaupun usiaku
dengan kak Sabrina terpaut jauh, aku yang saat ini sedang menempuh pendidikan
di salah satu desa dimana kak Sabrina tinggal. Desa kecil dekat dengan lautan
luas dan hamparan pasir putih yang setiap saat menghempaskan angin kerinduan
akan indahnya alam ini.
Aku saat ini masih duduk di bangku
menengah kelas dua, sedangkan kak Sabrina yang sudah menyelesaikan
pendidikannya di bangku kuliah. Aku mengenal kak Sabrina dua tahun yang lalu
ketika aku akan masuk di sekolah bernama MTs Baiturrahman. Kak Sabrina sebagai
guru ngajiku, namun aku menganggap dia sebagai kakakku. Karena kak Sabrina yang
selama ini dekat denganku, suka duka yang sering kita lalui bersama.
“Kak, aku lihat
sudah dua hari ini kakak selalu duduk di serambi masjid saat tengah malam,
emangnya ada apa Kak?”
“Hmmm,,, karena
Kakak melihat ada samudra cinta di langit. Kakak melihat malam ini berbeda
dengan malam-malam yang lain karena bulan, bintang dan seluruh alam semesta
yang sedang asyik berdzikir kepada Allah sehingga hati kakak merasa tenang
ketika percikan dzikir menyentuh relung jiwa kakak” sambil memandangiku
“Ya kak, aku jadi rindu ketika aku bersama umi duduk bersama
menikmati malam yang indah dan ditemani indahnya gemerlap malam. Semoga umi
bahagia di surga bersama bidadari-bidadari surga yang cantik,” tanpa kusadari
air mataku telah jatuh membasahi pipiku
Kak Sabrina memelukku, aku merasakan
kehangatan dalam jiwaku dan merasakan umi berada di sampingku berbagi bersama menikmati
malam.
“Semoga kita
bisa bertemu uminya Nisa di surga nanti, keindahan surga lebih indah dari
samudra cinta yang ada di dunia. Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari
yang baik-baik lagi cantik-cantik[1] surat
yang sering dibaca Nisasebelum mulai mengaji. Kerinduan Nisa saat ini insya
Allah akan dibalas yang lebih, bertemu umi bersama bidadari-bidadari cantik.
Yakinlah janji Allah itu pasti, karena Allah selalu mendengar isi hati seorang
hamba yang rindu dengan-Nya.”
Mataku mulai terpejam. Aku tertidur
dalam dekapan kak Sabrina. Sampai suara kak Sabrina perlahan menjadi pelan dan
akhirnya menjadi diam membisu. Hanya hawa dingin yang bisa ku rasakan.
“Dek, bangun,
sudah jam 3. Waktunya sahur.” Kak Sabrina membangunkanku.
Setelah aku menikmati indahnya
samudra cinta dan tertidur dalam dekapan kak Sabrina. Ternyata kak Sabrina
membawaku ke kamar.
“Ya kak,” Mataku
perlahan membuka, terasa berat untuk bangun.
Kulangkahkan kakiku untuk membasuh
wajah, menghilangkan rasa kantuk. Kemudian menuju ruang makan, disana sudah
terdapat makanan kesukaanku. Telur dadar dan sambal trasi. Kunikmati makanan
ini bersama kak Sabrina. Aku tinggal bersama keluarga kak Sabrina. Kedua orang
tua dan kak Sabrina, mereka sudah menganggapku sebagai bagian dari mereka.
“Ibu sama bapak
dimana?” tanyaku
“Sepertinya
sudah di masjid, dari tadi Mbak cari nggak ada,” sambil lihat samping
kanan-kiri.
Jam menunjukkan pukul 03.30. Aku
segera membersihkan meja makan dan bersiap-siap ke masjid untuk shalat subuh.
Selesai shalat subuh, aku termenung. Teringat saat tengah malam bersama kak
Sabrina di serambi masjid. Merasakan keindahan malam ditemani bulan, bintang
dan seluruh alam ini yang sedang asyik berdzikir kepada Allah. Aku juga
merasakan nikmatnya keindahan samudra cinta yang benama
Lailatul Qadr.
.jpg)