Jumat, 06 September 2013

Terbelenggu dalam tipu dayamu Indonesiaku

Saat  berada dalam kondisi kurang nyaman terkadang rasa bosan datang menghampiri. Kondisi ketika  berada dalam lingkungan yang dianggap tidak asing tapi gue ngerasa belum nyaman. PERBEDAAN. Yup, itulah yang  gue rasa belum menemukan zona nyaman.
            Gue berada dalam negara yang ber-pancasila dan ber-bhineka tunggal ika,  berbeda-beda tapi tetap satu jua yang artinya negara ini masih banyak perbedaan. Satu tujuan tapi beda jalan. Bener nggak ya?? -_- 
            Salah satu contoh ketika “mencari” jodoh J, katanya sih pebedaan karakter itu biasa tapi asalkan masih satu prinsip. Karena,  ketika dua insan yang bersatu  memiliki karakter yang sama, kehidupan ini akan datar-datar saja, nggak ada keindahan warna. Namun, bagaimana caranya menyatukan dua karakter yang berbeda menjadi satu??.  Memahami satu sama lain, yup. Mungkin itu salah satu jawabannya.
            Kembali ke topik yang pertama,  negara Indonesia yang ber-bhineka tunggal ika. Yang pasti banyak warna-warni ketika kita dihadapkan dengan sebuah bangsa yang memiliki banyak perbedaan. Perbedaan bahasa, suku, adat, bahkan agama pun berbeda. Saat perbedaan bahasa, suku, dan adat sudah tidak menjadi masalah, namun yang sedikit sulit ketika kita dihadapkan dengan perbedaan keyakinan.
            Islam mengajarkan kita untuk toleransi, baik dengan saudara sesama muslim maupun non muslim. Bahkan Rasulullah pernah bertransaksi jual beli kepada non muslim. Itu sebagian contoh kecil dari sifat toleransi yang diajarkan Rasulullah kepada kita.  Namun, melihat kondisi saat ini di Indonesia yang tidak hanya satu agama masih sulit untuk bersifat toleransi.
Salah satu contoh ketika ada kabar kontes Miss World diadakan di Indonesia. Masih saja ada pro dan kontra.  Ada yang setuju dikarenakan ingin mengenalkan dunia pariwisata yang ada di Indonesia, adakah jaminan?? -_- Kemudian bagi yang tidak setuju, dikarenakan ajang Miss World merupakan salah satu virus untuk merusak generasi bangsa Indonesia ini, karena mayoritas orang Indonesia adalah muslim dan menganggap kontes tersebut merupakan bagian dari diskriminasi wanita. Dengan cara seperti inikah non muslim “mencuci” otak kita. Sungguh mengenaskan -_-
Apakah ini bisa dinamakan toleransi?? Atau bahkan liberalisasi??
Ini juga termasuk menggunakan kekuasaan dengan sewenang-wenangnya. Ketika mereka yang berkuasa seenaknya sendiri, tidak melihat kondisi yang ada. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kontes Miss World adalah strategi bisnis mereka untuk pemasukan APBN. Miss Universe 2000 (Lara Dutta) bahkan mengatakan “Wajar bila saya dipakai oleh pemilik bisnis yang mempromosikan diri saya asal aturan main jelas”.
Seperti kembali pada zaman jahiliyah, saat wanita dapat diperjual-belikan. Astaghfirullah. Kehormatan wanita seakan tak ada artinya, dapat di beli dengan mudahnya.

Islam bahkan sangat memuliakan kedudukan wanita karena wanitalah yang nantinya yang akan mengajarkan anak-anaknya. Namun, jika wanita tidak bisa menjaga dirinya, apakah bisa menjaga anak-anaknya atau keluarganya. Wanita bisa dikatakan dengan “agen of change”,  karena kehidupan bangsa nantinya ditentukan dengan bagaimana seorang ibu mendidik anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar