21 April 2014, mengenang salah satu
pahlawan wanita yang bernama Raden Ajeng Kartini. Kartini bukan terlahir bukan
sebagai “anak kader” yang selalu tertarbiyah, namun kartini belajar mengenal
islam dari kyai sholeh yang saat itu memberikan ceramah surat Al Fatihah. Dari
pertemuan singkatnya dengan kyai sholeh yang mempelajari surat Al Fatihah
sampai surat Ibrahim karena setelah itu kyai sholeh meninggal dunia. Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan
transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah.
Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902,
Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang
selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat
bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.
Itulah sedikit kisah tetang
kartini, yang saat ini hanya tinggal sejarah. Saya yakin masih banyak
kartini-kartini di abad 21 ini, yang mungkin hanya dikenang beberapa orang saja
bukan berupa tulisan atau lampiran sejarah. Saat mengenang jasa sang kartini,
aku teringat akan sosok bunda yoyoh yusroh walaupun aku hanya mengenal lewat
sebuah buku yang menceritakan kisah hidupnya. 21 Mei 2011 beliau telah
meninggalkan kita semua, semoga bunda bahagia bersama bidadari surga J
Bunda
yoyoh yang dikaruniai 13 anak dan juga menjadi seorang aktivis di dunia
politik. Sejak tahun 2004 beliau sudah menjadi anggota DPR RI. Subhanallah,
bagaimana cara mengatur semua itu, dengan 13 anak (ada beberapa anaknya yang
sudah hafal 30 Juz) dan berbagai aktivitas da’wahnya di dunia politik.
Bagaimana caranya “mengharmoniskan” keduanya (keluarga dan parlemen) adalah tugas
mulia yang tidak semua orang mampu. Masih banyak cerita bunda yang sangat
menginspirasi, mulai dari perjalanan masa kecil bunda yang telah di “tarbiyah”
kedua orang tuanya sampai beliau wafatpun masih ada kenangan. Bunda, walaupun
aku belum pernah bertegur sapa denganmu. Namun, perjuangan bunda yang kukenal
lewat tulisan-tulisan kan slalu kukenang.
Mungkin bunda adalah salah satu
sosok kartini abad 21 yang telah tiada, namun masih ada sang kartini di belahan
bumi ini yang belum “tertulis” dan “terbaca” oleh publik. Kutunggu cerita para pejuang kartini :D 