Kamis, 01 Mei 2014

Kisah Kasih Dunia Pendidikan di Negaraku



2 Mei 2014 adalah peringatan penting bagi warga negara Indonesia yaitu Hari Pendidikan Nasional. Masih ingatkah dengan pahlawan pendidikan kita, slogan yang paling termasyhur di negara ini. Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Yup, Ki Hadjar Dewantoro. Kali ini saya tidak akan menceritakan panjang lebar bagaimana kisahnya beliau, namun saya akan lebih membahas “nasib” pendidikan di negara ini. Jika ingin lebih mengenal sosok Ki Hadjar Dewantoro silahkan googling sendiri atau pergi ke perpustakaan ya J
            Apa arti pendidikan bagi kalian?? Duduk dibangku sekolah, belajar, mengerjakan tugas, atau hanya sekedar mengisi daftar absen J. “Menurut kamus besar bahasa Indonesia pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik”. Dalami baik-baik makna pendidikan, jika tidak ada perubahan sikap pada diri sendiri apalagi bangsa ini, berarti masih stagnan dan belum ada perubahan. Namun, bagaimana kondisi pendidikan di negara kita saat ini?? yuk kita simak penjelasan selanjutnya J
            Masih layakkah disebut dengan pendidikan??
            Problematika pendidikan yang sampai saat ini masih banyak terdengar adalah kasus kriminal antara guru dan siswa dan yang terakhir saya dengar adalah kasus bunuh diri dan kekerasan pada anak di bawah umur yang terdapat di JIS (Jakarta Internasional Shcool). Problem pendidikan yang mahal juga mengakibatkan banyak anak bangsa ini yang tidak mampu untuk sekolah, padalah negara ini adalah negara paling kaya. Masih banyak lagi potret pendidikan di Indonesia yang perlu diperbaiki.
            Apakah ada yang salah dengan kurikulum di negara ini??
            Masih ingatkah dengan UN (Ujian Nasional) yang semakin meresahkan nasib pelajar Indonesia ini. Ujian Nasional yang menjadi “patokan” untuk dapat dikatakan lulus dari sekolah, Ujian Nasional yang baru saja dilaksanakan oleh kawan kita anak-anak SMA sederajat menjadi cerminan bahwa pendidikan kita belum siap untuk bersaing secara sehat dengan negara lain, karena terdapat soal yang masih ada kejanggalan yaitu adanya unsur kampanye politik pada lembar soal Ujian Nasional bahasa Indonesia, ya semacam pencitraan. Masih layakkah pendidikan yang seperti ini??
            Masih banyak problem Ujian Nasional yang belum terselesaikan, mulai dari ada kecurangan dari pihak tertentu dan sampai ada yang bunuh diri gara-gara Ujian Nasional. Masikah layak disebut dengan pendidikan??
            Perubahan kurikulum sejak tahun 1947 hingga tahun 2013 ini merupakan bentuk ikhtiar bangsa Indonesia agar lebih baik. Apakah selama ini dengan perubahan kurikulum mampu memberikan fasilitas pendidikan yang layak bagi bangsa ini. Potret kehidupan pendidikan yang telah saya jabarkan walaupun hanya sepenggal dari kisah pendidikan kita, saya menilai pendidikan kita belum bisa dikatakan berhasil, walaupun perubahan kurikulum sudah dilakukan berkali-kali. Semoga kurikulum 2013 yang kita sebut dengan Tematik Integratif bisa lebih baik. Harapan saya, kita tidak hanya mampu mengedepankan IQ saja namun mampu menyeimbangkan antara IQ, EQ dan SQ.

        Semoga bisa menjadi refleksi. Jika ada kata yang salah mohon maaf, karna aku hanyalah seorang pelajar yang masih tertatih-tatih untuk belajar memahami makna kehidupan ini J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar