Jumat, 13 Januari 2017
2 Bulan Berproses 2 Hari Saling Memahami
Berawal dari pertemuan antara dirimu dan ayahku disebuah agenda karantina Al-qur'an pada Bulan Ramadhan. Sedangkan aku yang beberapa kali dihubungi melalui via telp saja untuk menjadi muhafidhoh waktu hari H pelaksanaan karantina.
"Mbak, nanti waktu Ramadhan ikut ke Mojokerto beberapa hari ya??" Sebuah pertanyaan yang ayah lontarkan melalui via telp ketika aku masih sibuk di tanah rantau
"Berapa hari yah?? ngapain di Mojokerto??Aku masih di Malang, belum tau kapan balik pulang, tapi insya Allah sebelum Ramadhan aku usahakan buat pulang" kataku sambil membuka lembaran-lembaran amanahku yang belum terselesaikan.
" Insya Allah 10 hari, nanti jadi muhafidhoh disana ya?? Dan juga bisa sekalian muroja'ah, setelah itu nanti juga ikut karantina di Blitar 10 hari ya mbak??" Kata ayah menjelaskan rencana karantina yg akan aku ikuti.
"Iya yah, insya Allah bisa". Aku meng-iya-kan dengan penuh keraguan
Obrolan sekilas bersama ayah melalui via telp. Aku menutup telp kemudian menghela nafas sejenak, dalam hati kecilku aku ingin menjadi bagian dari orang-orang pecinta Al-qur'an namun gejolak yang lain berkata 'ini berat' dengan sikapku yang masih seperti ini rasanya berat untuk menerima amanah untuk menjadi penghafal Al-qur'an.
Lagi-lagi aku masih disibukkan dengan agenda-agenda di tanah rantau sampai hari mendekati Ramadhanpun aku belum bisa pulang. Namun aku harus pulang bagaimanapun caranya agar bisa ikut karantina ke luar kota selama 10 hari.
Aku menjalani kisah hidupku seperti air yang mengalir, beberapa agenda yang aku habiskan di Bulan Ramadhan itupun aku jalani dengan enjoy sampai pada akhirnya aktivitas seperti biasanya berjalan begitu saja, karena aku belum menemukan hal baru dalam hidupku jadi aku anggap aktivitasku seperti biasanya.
Suatu malam
"Mbak, bisa kirim foto 3 atau 4??" Tiba-tiba nada pesan pribadiku berbunyi dari bunda
"Iya bun, insya Allah nanti. Fotonya masih di laptop." Jawabku singkat, namun aku merasa ada hal yg lebih penting dari hanya sekedar meminta foto
Selang beberapa menit setelah aku mengirim foto, tiba-tiba bunda mengirim sebuah foto dan sebuah file biodata. Aku baca biodata tersebut yg ternyata data itu asing bagiku, aku tak tau bahkan aku tak mengenalnya sedikitpun.
"Aku pelajari dulu, aku istikharah dulu bun." Jawabku singkat setelah biodata itu sudah kubaca
"Iya mbk, semoga Allah meridhoi. Serahkan semua sama Allah, insya Allah diberi kemudahan." Jawaban bunda yg menyejukkan hati
Rasa gundah itu tiba-tiba datang menghampiri beberapa kali sampai aktivitasku terganggu. Pergi ke tanah Rantaupun gejolak pelampiasan sering terjadi. Aku ingin melepaskan, melepaskan sejenak, sampai hati ini mampu, mampu untuk menerima.
Beberapa kali aku menepis kegelisahanku, aku ambil air wudhu kemudian shalat istikharah untuk menenangkan hatiku.
Pada akhirnya
Pertemuan pertama ketika itu kau ditemani dua kawanmu untuk menuju rumahku dengan maksud dan niat melakukan ta'aruf, sedangkan aku hanya ditemani kedua orang tua ketika menyambutmu.
"Mungkin pertimbangannya yang tercantum di proposal nikah adalah calon istri mau ikut tinggal di rumah Madiun yang telah disediakan pihak pondok". Kau berkata dengan tegas dan menyakinkanku
Aku menunduk diam, hanya jawaban 'iya insya Allah' yang aku sampaikan, karena beberapa kali gejolak hatiku meminta agar diriku tenang. Kau yang tiba-tiba muncul membuatku kaget dan membuatku bertanya-tanya, apakah ini serius, seserius diriku berada dalam lingkaran dakwah ini.
Kau kembali lagi menemuiku untuk yang kedua kalinya, membawa rombongan bersama keluargamu, kau kenalkan mereka dihadapanku. Kita melanjutkan sebuah proses ta’aruf ini bersama walaupun sebelumnya kita tak saling kenal satu sama lain.
Singkat cerita selama 2 Bulan kita berproses ta’aruf sampai yang menyakinkan diriku adalah orang tuaku sendiri, aku benar-benar ingin berproses ta’aruf bukan layaknya orang pacaran. Segala komunikasi yang tidak penting berusaha aku hindari, agar proses ini di Ridhoi oleh Allah. Alhamdulillah akhirnya dengan izin Allah kita dapat menyempurnakan separuh agama tepat di Bulan Desember 2016.
“Gimana rencana kedepan untuk keluarga kelak??” Tiba-tiba kau bertanya kepadaku setelah tanggung jawab orang tuaku sudah beralih kepadamu wahai imamku
Aku hanya menjawab dengan senyuman. Layaknya pengantin baru yang masih malu-malu, aku hanya melemparkan senyuman kepadamu. Namun, beberapa menit setelah aku sadar kau adalah teman hidupku kelak, akhirnya aku memberanikan diri untuk cerita tentang semua, aku berusaha untuk terbuka dengan dirimu yang baru saja kukenal. Ternyata kita cuman butuh 2 hari hanya untuk saling mengenal dan memahami.
Karna kecintaanmu terhadap Al-qur’an lah yang membuatku terpikat
Ainun & Bayu
Alhamdulillah telah SAH pada tanggal 25 Desember 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar