”Kesabaran merupakan perlindungan dari kesalahan sama halnya seperti
pakaian melindungi anda dari rasa dingin. Jika anda mengenakan lebih banyak
baju ketika udara semakin dingin, rasa dingin tidak akan memiliki pengaruh
terhadap anda. Jika anda menumbuhkan rasa sabar dalam diri anda ketika anda
melakukan kesalahan, kesalahan tersebut tidak akan berdampak apapun pada diri
anda.”
- Leonardo Da Vinci –
- Leonardo Da Vinci –
Banyak sebagian orang mengatakan bahwa kesabaran itu ada
batasnya. Ketika kita menyaksikan berbagai adegan-adegan di sinetron yang
mengatakan bahwa “Sabar itu ada batasnya”. Kata itu yang terkadang mampu membuat
kita terpuruk ketika kita gagal atau bahkan membuat kita menyerah pada kondisi
yang sangat “kritis”. Sebenarnya sampai mana sih batas kesabaran itu. Biasakah kita
ukur?? Bisakah kita timbang?? Bisakah kita liat??
Dalam Al-Qur’an banyak menyebutkan tentang pentingnya
sebuah kesabaran. Bahkan sabar itu bisa menjadi penguat dan penolong kita saat
menghadapi suatu ujian kehidupan. Masih ingatkah kisah para anbiya’ yang selalu
menjadikan sabar adalah sebagai penguat dalam segala kehidupannya. Salah satu
contoh yaitu kisah dari nabi Ayub As yang menderita penyakit parah sehingga tak
ada satupun manusia yang mendekatinya, bahkan istrinya juga tidak mau mendekati
nabi Ayub As lantaran godaan syaitan.
Hai
orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar
dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(Al-Baqarah: 153)
Rasulullah Saw salah satu teladan
kita juga mengajarkan tentang kesabaran, bahkan seorang Rasul-pun yang dijamin
masuk surga masih bisa menghadapi kesabaran umatnya. Bagaimana dengan kita yang
sama sekali tidak ada jaminan masuk surga?? Seberapa sabarkah diri ini menghadapi "skenario kehidupan" ini?? Masikah kita terlena akan janji
Allah yang terdapat dalam surat Al-Baqarah tersebut “Sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar”. Janji Allah itu pasti.
Masih banyak kisah para anbiya’ yang
menggambarkan tentang kesabaran. Bahkan mungkin kesabaran kita masih jauh
dibandingkan dengan kesabaran para anbiya’. Namun, kita sering mengeluh yang
terkadang bisa menjadikan kita semakin lemah dan terpuruk.
Detik-detik Ramadhan akan segera
datang menghampiri kita. Sudahkah kita mempersiapkan dan menyambutnya??
Salah satu cara kita agar senantiasa
bersabar adalah dengan berpuasa. Terbelunggunya syaitan ketika bulan Ramadhan
bukan berarti kita terlepas dari sebuah kesabaran, karena puasa merupakan
separuh dari sabar. Ketika kita mampu melewati puasa sesuai dengan yang telah
ditentukan, menjadikan puasa itu sebagai penguat iman kita. Jasmani dan rohani
kitapun akan menjadi sehat.
Banyak manfaat dari puasa salah
satunya yaitu menjadikan kita mampu bersabar. “Ya Allah jadikanlah aku penyabar
dan bersabar dengan setiap dugaanMu”. Semoga puasa Ramadhanmu menjadikan
sebagai penguat iman dan kesabaran. Amin J
Wallahua’lam.
Semoga Bermanfaat J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar