Selasa, 24 Desember 2013

Cintailah cinta


      Cinta,
            Ruh yang mengalir lembut, menyenangkan, bersinar, jernih, dan ceria...            Katakanlah, “ Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah, RasulNya, dan berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya!”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At Taubah 24)
            Kepada siapa, atas apa, dan bagaimana ekspresi cinta itu??            

Pertama
            Cinta Allah ; jangan bersedih
            “Jikalau kalian tidak menolongnya, maka sungguh Allah telah menolongnya. Ingatlah ketika orang-orang kafir mengeluarkannya dari Makkah sementara dia menjadi orang kedua dari dua orang. Ingatlah ketika mereka berdua berada di dalam gua. Ingatlah ketika ia berkata pada sahabatnya, “Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita...” 

(At Taubah 40)            
Sebuah buku, Laa Tahzan judulnya, telah menjadi buku terlaris di Timur Tengah selama dua tahun penuh. Demikian juga terjemahannya dalam bahasa inggris, Don’t Be Sad. Semoga Allah menyayangi Dr. Aidh ibn Abdullah Al Qarni, penulis buku ini. Kita akan belajar setetes ilmu dari lautan hikmah beliau begitu dalam. Di antaranya melalui kutipan berikut;            Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang. Maka para awak kapal pun dengan panik berseru, 
“Ya Allah!”            
Ketika orang yang berjalan di tengah gurun pasir tersesat, kendaraan tak tahu lagi jalan yang benar, dan kafilah sudah kebingungan menentukan arah lajunya, maka mereka menyeru, 
“Ya Allah!”            
Ketika musibah menimpa, bencana dan tragedi melanda, maka orang-orang pun berseru, “Ya Allah!”            
Ketika pintu-pintu permohonan telah tertutup dan sekat-sekat permintaan telah dipasangkan, maka mereka pun berteriak, 
“Ya Allah!”            
Ketika semua cara telah dicoba dan ternyata tak ada celah untuk keluar. Ketika semua jalan telah menjadi demikian sempit, semua yang dicita-citakan buntu, dan semua jalan pintas telah pupus maka merekapun meyeru, 
“Ya Allah!”           
 Allah; Asma terbagus, tulisan terindah, ungkapan yang paling jujur, dan kata yang paling berharga.            
Allah; pemilik semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan, kemuliaan, kemampuan dan hikmah.           
 Allah; pemilik semua kelembutan, perhatian, pertolongan, bantuan, cinta, dan kebaikan.            
“...Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada...” (Al Hadid 4)            
Ya’qub Alaihis Salam, mari kita ingat kesedihannya. Kehilangan putera tercinta, yang paling lucu, paling menggemaskan, paling tampan, paling manis perangainya. Di terpaan badai duka itu ia menggumamkan keimanan, kepasrahan, dan cinta.           
 “... Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (Yusuf 86)           
 Seperti itulah. Ketika seorang mukmin memaknai cintanya kepada Allah, ia selalu dalam kebaikan. Ia memberi dua arti pada kebersamaan sucinya dengan Allah. Ia merasakan penjagaan sekaligus pengawasan Kekasihnya. Dengan penjagaan ia mantap dan yakin. Dengan penjagaan ia merasa aman dari segala kemadharatan, karena ia memiliki sebuah kalimat yang paling menenangkan: “ Sesuatu yang jadi haq takkan kemana, sesuatu yang luput takkan menimpa.”            
“... Supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan supaya kalian tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al Hadid 23)            
Dan dengan pengawasan, ia berusaha hidup dalam keshalihan, karena ia lebih patut untuk malu dan takut kepada Allah, Kekasih yang selalu membersamainya.          
  “... Dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepaadanya daripada urat lehernya.” (Qaaf 16)           
Kedua
            Cinta Akhirat; Cinta Abadi pada yang kekal di SisiNya
            Abu Sa’id Al Khudhri berkata, Rasulullah SAW kelua ke tanah lapang untuk shalat pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri. Berpapasanlah beliau dengan rombongan para wanita, maka bersabdalah beliau, “Wahai sekalian wanita, bershadaqohlah kalian. Sesungguhnya aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka.” Mereka pun berkata, “Ya Rasulullah, mengapa bisa begitu?” Beliau menjawab, “ Karena kalian banyak melaknat, dan tidak bersyukur kepada suami!” (HR. Al Bukhari dan Muslim)          

 Adakah risau di hatimu mendengar kalimat Rasulullah: Aku melihat kalian sebagai mayoritas penghuni neraka? Buang ia jauh-jauh. Bergembiralah! Demi Allah bergembiralah! Yang harus jadi perhatianmu bukan hal itu. Yang harus kau lihat adalah banyak melaknat dan tidak bersyukur. Keduanya untuk dihindari. Juga perhatikan kata bershadaqah. Yang ini untuk dilakukan.            
Rasulullah memapar fenomena. Tetapi cinta yang begitu besar pada umatnya ini telah membukakan bagi kita solusinya. Shadaqah bisa menjadi penghapus dosa melaknat dan  mengkufuri suami apatah lagi jika kedua perangai iu tak ada dan shadaqah tetap terjaga. Maka selesailah masalah. Maka hilanglah gelisah, gundah, dan resah. Benar, kan??            “Dan berilah perumpamaan kepada mereka, kehidupan dunia adalah bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit. Maka menjadi suburlah karenanya tumbuhan-tumbuhan di muka bumi, maka tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering dan lenyap diterbangkan oleh angin. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Kahfi 45)            
Inilah ia, kata Sayyi Quthb ketika mentafsir ayat ini dalam Zhilal, pertunjukan yang dipentaskan secara singkat dan cepat, agar terrasakan dalam jiwa naungan kefanaan itu. Air itu turun dari langit, ia tak mengalir dan tiada meleleh. Bercampur air itu dengan tumbuh-tumbuhan di bumi. Tetumbuhan itu berkembang dan masak buahnya, lantas kering diterpa angin. Hanya dengan tiga ungkapan dalam Al Quran, berakhirlah episode kehidupan ini!           
 Ia diungkapkan dengan alur kata yang meringkas proses pertunjukan dengan kata susulan yang diperankan oleh kata “maka”; Air yang Kami turunkan dari langit MAKA menjadi subur karenanya tetumbuhan bumi MAKA menjadi kering diterbangkan angin. Alangkah singkatnya kehidupan ini! Alangkah hina ia dibanding akhirat yang abadi!            
Dunia hanya tipuan bagai kilatan mutiara di tanah yang gersang            
Wahai hamba Allah segalanya akan berakhir            
Kita telah tertuang, pada takdir yang bersanding menunggu            
(Abu Al Itahiyah)            
Ada kemuliaan, kekuatan yang tak terkalahkan, kata ustadz Hasan Al Banna, ketika suatu kaum bisa memilih caranya meninggalkan dunia. Dengan cita rasa tinggi tentu. Dengan jihad di jalan Allah pasti. Lalu kita tahu, bahkan Allah tak pernah mengaruniakan kematian kepada mukmin yang terbunuh syahid memenuhi janji.           
 “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rizqi. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang Ia berikan kepada mereka.” (Ali Imran 167-170)           
Ketiga
            Cinta Rasulullah;  Mahaguru Cinta Sepanjang Masa
            Kepada semesta ia membawa Risalah Al Qur’an, Kalamullah yang dinuzulkan berangsur sejak dari ‘bukit cahaya’, Jabal Nur. Di malam qadar yang mengungguli seribu bulan, menggemakan iqra’ menjadi tonggak peradaban, menyemaikan kata cinta, adil, setara, taat, merdeka, hak asasi, dan seterusnya.            

Di balik selimut ia ditegur Surah Al Mudatstsir untuk berdiri dan memberi peringatan. Menjadi koreksi atas kerahiban yang memadamkan gairah hidup dalam pengaburan makana keshalihan suci serta penipuan atas nama Tuhan oleh para cerdik . ia ajarkan kemuliaan perempuan yang begitu besar karena pegorbanan mereka sejak hamil sampai membesarkan generasi, menjadi mitra penenteram kehidupan laki-laki dari galau dan gelisahnya, madrasah utama sebelum bangunan-bangunan tak bernyawa menjadi strata lanjut pendidikan buah hatinya.            
Umar pernah menangis menyaksikan beliau tidur beralas tikar kulit kasar yang dijalin rerumputan, alas yang membuat punggungnya berbekas bilur. “Sungguh Ya Rasulullah, Kisra dan Qaishar bertelekan di atas bantal dan permadani suteranya, pelayan pun hilir mudik menyediakan keperluannya, sementara kedudukanmu di sisi Allah jauh lebih mulia...”, keluh Umar. Ini salah satu keluhan yang kurang ia suka, tapi dengan senyum termanis yang pernah disaksikan dunia, ia jelaskan pada sahabat yang selalu bersemangat ini, “Apakah engkau tidak ridha mereka mendapat dunia sedang kita menyimpan akhirat wahai Ibnul Khaththab?”            
Ia memang penguasa yang kekuasaanya tak kalah dengan Kisra dan Qaishar, tentu ia layak sejajar dengan mereka fasilitas. Tapi yang ia kuasai tak cuma wilayah, rakyat, dan tentara. Yang ia taklukkan adalah hati, untuk diseru bersama dan berpadu, mengesakan Allah, Ilah yang satu.            
Ingatlah suatu hari saat ia membawa sepuluh ribu orang memasuki Makkah, kota yang dicintainya, kota yang penduduknya mengusir dan menyakitinya. Punggungnya terbungkuk, janggutnya menyentuh punuk untanya. Ia tak mabuk kemenangan. Ia beristighfar. Lalu, tampaklah wajah-wajah itu, wajah yang pernah menimpukkan kotoran, batu, dan isi perut unta. Wajah-wajah yang bengis, yang mengatainya gila, penyair pendusta, dan penyihir lihai. Saat wajah-wajah itu tertunduk lesu, terbungkam kalah di hadapannya, di depan ka’bah, apa yang akan dilakukannya?            
“Wahai Quraisy, apa yang sebaiknya aku lakukan terhadap kalian?”, suaranya tegas namun tetap teduh dan sejuk. Suara itu membuat wajah-wajah tertekuk dibinari harapan, akan Al Amin, manusia paling jujur, paling mulia di tengah mereka. Lalu dengan kompak lisan mereka pun mengucap, “Engkau adalah saudara kami yang mulia, putera dari saudara kami yang mulia..!”           
 “Pergilah..!”, katanya dengan nada yang sangat empatik, “Kalian semua bebas!”. Ia seolah mengikuti jejak saudaranya, Yusuf berabad lalu. Saat ia mengucapkan perkataan melegakan kepada saudara-saudara yang telah memasukkannya ke gelapan sumur.           
 “...Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni. Dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang.” (Yusuf 92)            
Setelah menyaksikan cinta dari manusia yang seluruh sisi hidupnya penuh cinta ini, ada gerak yang perlu kita hidupkan. Gerak cinta mengamal sunnah. Gerak yang mungkin bermula dari niatan suci menjejaki langkah-langkahnya. Betapapun, ada harapan bertemu dan bersua. Paling tidak nanti. Atau kini tetapi dalam mimpi.            
Keempat
            Iman, Hijrah, Jihad; Di Mana Cinta adalah Warna           

 “...Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah di dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan...” (Al Hujuraat 7)           
 Kata cinta belum berakhir. Kalau para remaja gila mengatakan~dan melakukan~ zina sebagai pembuktian cinta, maka berbahagialah kita yang menyusun kata iman, hijrah, dan jihad dalam kalimat cinta kita. Surat Al hujurat ayat tujuh tersebut menjadi penunjuk bahwa cinta adalah bagian serenade kehidupan mukmin yang penuh kemuliaan. Bening. Bening sepanjang nusa dan masa. Itulah percikan keagungan generasi pertama ummat ini. Inilah mereka, Muhajirin dan Anshar.            
Muhajirin, Penegak Panji yang Kesakitan dan Terusir
            “Dan ingatlah (wahai muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kalian takut orang-orang akan menculik kalian, maka Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah) dan dijadikanNya kalian kuat dengan pertolonganNya dan diberiNya kalian rizqi dari yang baik-baik, agar kalian bersyukur.” (Al Anfal 26)
            Hari-hari di Makkah adalah hari-hari ujian bagi para calon muhajirin. Setiap kabilah berlomba untuk menyiksa dan mengembalikan anggota kabilah dan budak mereka kepada penyembahan Lata dan Uzza.            

Ada banyak cerita nestapa yang menggidikkan bulu roma. Tentang Bilal, keluarga Yassir, Sumayyah, dan ammar anaknya. Juga tentang Khabbab, pandai besi yang dipanggang di atas bara dan lelehan besi buatannya sendiri sampai keduanya padam oleh cairan tubuhnya. Luar biasa! Bara dan besi membara itu padam karena cairan tubuhnya yang melepuh terbakar.            
Tak hanya orang lemah yang mendapatkan ujian seperti ini. Mush’ab bin Umair, pemuda paling tampan, wangi dan halus kulitnya, kemilau rambutnya, serta paling modis pakaiannya di masa jahiliah, diboikot oleh ibu yang sebelumnya sangat menyayanginya. Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury dalam Ar Rahiqul Makhtum-nya menggambarkan akibat boikot ini, “...Kulit Mush’ab mengelupas seperti ular yang berganti kulit”. Keadaan ini dibawa Mush’ab dalam hijrahnya, sampai suatu hari di Masjid Nabawi, Rasulullah menangis mengenang keadaannya.            
Di kalangan orang terpandang, Abu Jahal akan menjadi orang pertama yang menakut-nakuti, menjanjikan uang dan kedudukan kepada mereka yang masuk islam agar kembali murtad. Tapi pembentukan jiwa-jiwa keimanan belum berakhir disini. Semua akan merasa menjadi faqir dan terusir. Bahkan meski sebelumnya ia orang kaya yang sangat pemurah seperti Abu Bakar yang membeli dan memerdekakan semua budak yang masuk islam. Semua akan merasa menjadi faqir dan terusir, ketika mereka semua berhijrah meninggalkan segala milik kecintaan.           
 “Bagi orang-orang faqir yang berhijrah yang terusir dari kampung halaman dan harta benda mereka (karena) mencari karunia Allah dan keridhaanNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al Hasyr 8)           
 Hijrah adalah pengorbanan yang begitu mengiris perasaan. Ini adalah perjalanan yang serba mengambang. Tanpa harapan, tak jelas kesudahan. Yang lemah dan terbiasa menderita tak tahu duka lara apa lagi yang akan mereka terima, apatah lagi yang biasa berkecukupan. Keluarga, rumah yang nyaman, tempat usaha yang prospektif, semua harus ditinggalkan untuk mengejar ketidakjelasan. Apalagi Madinah bukan tempat yang menjanjikan.            Shuhaib ibn Sinan, imigran Romawi yang gemilang membangun usahanya di Makkah harus meninggalkan sukses yang ia bangun dari nol. Komentar manusiawi atas peristiwa ini tentu berbunyi, “Shuhaib bangkrut!”. Tapi dimensi keimanan ternyata menyusun sebuah kalimat lain di lisan RasulNya yang berbunyi, “Rabiha Shuhaib.. Shuhaib beruntung, Shuhaib beruntung!”            
Hijrah juga menyisipkan kisah keberanian tentang Umar, yang berangkat dengan kata pamit berupa tantangan. Ia tidak ingin seperti orang lain yang berangkat sembunyi-sembunyi. Setelah thawaf mengelilingi Ka’bah, ia berkata di hadapan pemuka-pemuka Quraisy, “ Saksikanlah oleh kalian bahwa Ibnul Khaththab akan berhijrah. Siapa yang ingin istrinya menjadi janda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya meratapi kematiannya, silahkan ia menemuiku sendiri di balik bukit ini!”            
Di balik ketegaran mereka, Abu Bakar dan Bilal tetap saja shock ketika tiba di Madinah. Demam tinggi membut mereka merintih kesakitan. Homesickness tetap saja menjadi penyakit yang menusiawi. Dalam demamnya, Abu Bakar pun bersyair;            
Kala pagi,            
Setiap orang bisa berkumpul dengan keluarga.            
Namun kematian lebih dekat dari teli terompahnya!            
Ketika keadaan itu disampaikan kepada Rasulullah, beliau pun berdoa: “Ya Allah, buatlah kami mencintai Madinah ini seperti cinta kami pada Makkah atau lebih banyak lagi. Sebarkanlah kesehatan di Madinah, bekahilah ukuran dan timbangannya, singkirkan sakit demamnya, dan sisakanlah air padanya.” (HR Bukhari)            
Anshar, Pemilik Rumah yang Memberikan Segalanya
            Tidak ada golongan manusia yang begitu mudah memberikan pertolongan sepenuh kemampuan seperti orang-orang Anshar. Sebelumnya, mereka sedikitpun tidak mengenal orang-orang yang mereka tolong. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka adalah sesama muslim.
            Saudara macam apa ini, yang bersedia membagi dua semuanya miliknya. Dari kebun, toko, rumah, budak, bahkan jika istrnya disuka ia akan ceraikan segera dan menikahkannya dengan sang saudara. Itsar, mengutamakan saudara atas keperluannya sendiri, menjadi puncak dari persaudaraan yang telah dengan cemerlang diukirkan orang-orang Anshar dalam piagam keislaman mereka. Benarlah Rasulullah, “Di dalam rumah orang-orang Anshar selalu ada kebaikan!”            

“Dan orang-orang yang telah menempati rumah (Madinah) dan telah beriman sebelum kedatangan Muhajirin, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada Muhajirin. Dan mereka mengutamakan Muhajirin atas diri mereka, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Hasyr 9)
            Dengarkan Sa’ad ibn Mu’adz berbicara atas nama Anshar menjelang hari Badar. Ini saat mereka akan menghadapi perang yang sebenarnya tidak tercantum dalam klausul ba’iat janji setia mereka kepada Rasulullah. “Kami sudah beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah berbaiat untuk mendengar dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang engkau kehendaki.”            

“Sambunglah tali siapa pun yang kau kehendaki, putuslah siapapun yang kau kehendaki. Ambillah dari harta kami menurut kehendak engkau, berikan kepada kami menurut kehendak engkau. Apa pun yang kau ambil dari kami adalah lebih kami sukai daripada yang kau tinggalkan untuk kami.”            
“Apa pun yang kau perintahkan, urusan kami hanyalah mengikuti perintahmu. Demi Allah, jika engkau maju hingga mencapai dasar sumur yang gelap, tentu kami akan maju bersama engkau. Demi Allah, jika engkau terhalang oleh lautan, lalu engkau terjun ke lautan itu, tentu kami akan terjun bersamamu.”            
“Tak seorang pun di antara kami akan mundur. Sesungguhnya kami dikenal sebagai orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dalam barakah Allah!”
            Anshar memang penolong sejati. Keistiqamahan menjaga keberlangsungan pertolongan yang mereka berikan menjadi indikasi jauhnya mujamalah (basa basi) dari visi dan aksi mereka. Banyak orang yang bisa menolong, tapi jarang yang bisa bertahan dalam posisinya sebagai penolong untuk waktu yang begitu lama sebagaimana telah dilakukan orang-orang Anshar.            

Wajar kalau terkadang sifat manusiawi muncul.sifat ini justru menunjukkan bahwa mereka tetap manusia dan bukan malaikat penolong. Tapi tentu saja, mereka manusia-manusia yang mulia.            
Pembagian rampasan Hunain di Ji’ranah adalah saksi sisi manusiawi mereka. Sisi manusiawi yang ketika disadarkan membuat mereka terbang ke alam maha tinggi untuk tetap menjadi penolong sejati yang dengan bangga pulang membawa serta Allah dan RasuNya.            Siapa yang dipanggil di saat semua orang lari dari Rasulullah di lembah Hunain? Dan siapa dengan bergegas menyambut, “Labbaik!” hingga menggetarkan seluruh wadya musuh yang berlindung di atas bukit? Bukankah Anshar? Bukankah Anshar yang menjadi kunci kemenangan pasukan ini?            
Pertimbangan manusiawi mengatakan, Anshar yang paling berhak mendapatkan rampasan Hunain yang memenuhi wadi itu. Tapi Rasulullah justru membagikannya kepada pemuka-pemuka Thulaqaa, muallaf Makkah yang paling depan dalam melarikan diri dari pertempuran dan berkata, “Mereka takkan berhenti berlari sampai mencapai laut!”            Ada sesuatu yang mengganjal setelah pembagian itu, sesuatu yang disampaikan oleh Sa’ad ibn Ubadah dan membuat orang-orang Anshar dikumpulkan di sebuah kandang raksasa. Rasulullah datang dan berbicara kepada mereka.            
“Amma ba’du. Wahai semua orang Anshar, ada kasak kusuk yang sempat kudengar dari kalian, dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya, bukankah dulu kalian bercerai berai lalu Allah menyatukan hati kalian?”            
Mereka menjawab, “Begitulah. Allah dan RasulNya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya.”            
“Apakah kalian tak mau menjawabku, wahai orang-orang Anshar?”, tanya beliau.            Mereka ganti bertanya, “Dengan apa kami menjawabmu Ya Rasulullah? Milik Allah dan RasulNya lah anugrah dan karunia...”            
Beliau bersabda, “Demi Allah, kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku; Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lagi papa lalu kami memberikan tempat dan menampungmu...”


cuplikan dari bukunya Salim A. Fillah "Agar Bidadari Cemburu Padamu"

Bidadari saja bisa cemburu ^-^                                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar